Lifestyle Travel

Video : Keindahan Tersembunyi di Pulau Sumba

  • MINGGU, 10 SEPTEMBER 2017
  • Reporter: Zidhon
  • View: 587

22motomoto (Sumba) - Melakukan traveling memang tidak semudah yang kita bayangkan. Mulai dari persiapan fisik hingga kelengkapan perjalanan harus dipersiapkan dengan matang. Traveling juga bisa diartikan bukan sekedar untuk menghibur diri, tetapi menikmati keindahan dengan cara-cara positif dan tidak memaksakan.

Seperti yang dilakukan oleh Zidhon, Advina Ratnaningsih, Elsa Dewi dan beberapa pecinta traveling. Mereka melakukan trip ke pulau Sumba dengan tujuan mengeksplorasi keindahan wisata yang berada disana.

Perjalanan mereka dimulai dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang  menuju Bandara Tambolaka, Sumba Barat. Sebelum mereka menginjakan kaki di Sumba, Zidhon beserta rombongan transit di Bali. Dimana maskapai yang mereka tumpangi memang diharuskan singgah di pulau Dewata.

Sesampainya di Sumba Barat, rombongan langsung menuju ke salah satu Hotel di kota Waikabubak. Sebagai informasi, Kota Waikabubak adalah ibukota Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Waikabubak merupakan kota terbesar kedua di Pulau Sumba setelah Waingapu, Kabupaten Sumba Timur.

Dihari pertama, mereka berangkat menuju spot danau yang eksotis yaitu danau We'ekuri di Sumba Barat. Jarak waktu menuju lokasi dari kota Waikabubak lebih kurang 1 jam 30 menit degan menggunakan mobil mini bus bermuatan 6 org.

Danau We'ekuri adalah danau air asin. Kadar garamnya tergolong tinggi sehingga bisa mengapungkan para wisatawan yang mandi dalam danau itu. Airnya yang bening kebiruan membuat pengunjung begitu betah menikmati panoramanya.

Menurut warga sekitar, Weekuri berasal dari bahasa Sumba, yakni wee artinya air dan kuri artinya parutan atau percikan. Weekuri artinya air hasil parutan karang yang menerobos ke daratan, kemudian membentuk danau.

Danau Weekuri berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 150 meter ke daratan, lebar terjauh 50 meter, serta kedalaman bagian kiri sekitar 3 meter dan bagian kanan 5 meter saat laut pasang.

Saat air danau surut, dasar danau terendah hanya sekitar 30 cm dan hanya tampak pasir putih mengilap, sementara dasar terdalam sekitar 2,5 meter dengan air danau berwarna biru

Lepas mengeksplorasi keindahan Danau We'ekuri, rombongan kembali menuju hotel untuk mempersiapkan petualangan di hari berikutnya.

Masuk di hari kedua, mereka menuju pantai Bwanna yang terkenal dengan keindahan tebing / karang bolongnya. Pantai Bwanna atau oleh orang awam disebut Pantai Banna, adalah satu objek wisata pantai yang masih belum tersentuh pembangunan alias masih alami. Pasirnya yang putih, dengan dikelilingi tebing kokoh yang tinggi menambah keindahan pantai ini.

Belum lagi sebuah karang tinggi dengan lingkaran lubang bak cincin di pinggir pantai, menambah keunikan Pantai Bwanna yang jarang dimiliki pantai lainnya. Melihat pemandangan ini, para pendatang serasa sedang memasuki gerbang nirwana.

Pantai ini juga sangat cocok bagi pecinta surfing dan penggemar panjat tebing. Pantai Banna berada di kecamatan Kodi Balagar, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak jauh dari lokasi atraksi Pasola yang setiap tahun di gelar di Pulau Sumba.

Untuk sampai di Pantai Bwanna (Banna) ini memakan waktu sekitar 2 jam dari Tambolaka, Ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya, dengan menggunakan kendaraan roda dua dan hanya 500 meter ke pantai ini. Namun jika menggunakan roda empat, traveler harus berjalan kaki kurang lebih 2 kilometer untuk bisa sampai ke pantai ini.

Pantai ini belum banyak yang mengunjungi, dan akses jalannya masih jalan setapak bagi para warga sekitar yang ingin melaut. Untuk bisa merasakan lembutnya pasir pantai ini masih ada perjuangan lain, yaitu harus melalui jalan menurun yang cukup menantang. 

Lepas dari pantai Bwanna, rombongan menuju desa adat Ratenggaro yang terkenal dengan  bangunanya. Kawasan Desa Adat Ratenggaro dapat membuat para pengunjungnya serasa kembali ke jaman megalithikum sekitar 4.500 tahu yang lalu di mana masih terdapat kuburan batu tua di sekitar perkampungan. Akses jalanan dari Tambolaka menuju Ratenggaro dapat ditempuh dalam waktu 1,5 hingga 2 jam dengan kondisi jalan beraspal yang terpelihara baik.

Di hari ke tiga, Zidhon dan rombongan menuju air terjun Lapopu yang terkenal dengan air berwarna toska. Tracking dari tempat parkir ke spotnya tidak terlalu jauh, hanya 10 menit dan juga ada warga setempat yang mau membantu rombongan menjaga barang bawaan. Tapi ingat, demi keamanan bersama, kita juga harus tetap berhati-hati disana. Jaraknya cukup jauh dari kota Wisata yakni kurang lebih 2 jam.

Lanjut di hari ke empat, mereka menuju desa adat Praijing yang jaraknya cukup dekat dengan hotel. Lepas dari Desa adat Praijing, rombongan menuju Sumba Timur yang jaraknya kemauan jauh yaitu memakan waktu perjalanan lebih kurang 4 jam. Kami tiba di homestay marthem yang daerahnya belum ada listrik dan juag signal celular, tapi semua terbayar oleh pantai Tarimbang yang sepi, luas dan indah. Dan berswafoto adalah prioritas untuk disana karena keindahan pantai yang benar-benar luar biasa. 

Di hari kelima kami berangkat dr hotel di Sumba Timur menuju kampung Kalu yang memproduksi kain khas Sumba, lalu ke bukit Wairinding yang terkenal dengan bentuknya seperti bukit teletabis. 

Di Traveling kali ini, Zidhon dan rombongan merasa sangat senang. Terlebih untuk Advina yang telah merencanakan perjalanan ini. Advina yang notabene memiliki profesi sebagai model juga mengajak rombongan untuk berdonasi kepada warga di beberapa lokasi wisata yang telah mereka kunjungi.

  • Videograper: Zidhon

Comments