Lifestyle Travel

Dua Perempuan Indonesia Siap Taklukan Puncak Dunia

  • SELASA, 03 APRIL 2018
  • Reporter: Muhammad Chrysa
  • View: 357

22motomoto - Tergabung dalam tim The Women of Indonesia's Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU), Fransiska Dimitri Inkiriwang (24) dan Mathilda Dwi Lestari (24) adalah dua orang perempuan yang sedang dalam misi untuk mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi di dunia, puncak Gunung Everest.

Everest merupakan titik tertinggi yang ada di Bumi yang membentang di tengah rangkaian Pegunungan Himalaya. Dengan catatan elevasi 8.848 meter di atas permukaan laut, ketinggian Everest hampir sama dengan menumpuk dua Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid yang berada di Provinsi Papua, Indonesia.

Sebelumnya, mereka berdua telah berhasil menaklukkan enam puncak gunung tertinggi di belahan dunia lain yakni Gunung Carstensz Pyramid (4.884 mdpl), Gunung Elbrus (5.642 mdpl), Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl), Gunung Aconcagua (6.962 mdpl), Gunung Vinson Massif (4.892 mdpl), dan Gunung Denali (6.190 mdpl) dalam empat tahun ke belakang.

“Semua pengalaman yang telah kita dapat selama empat tahun melakukan ekspedisi ini, kami merasa cukup siap untuk melaksanakan ekspedisi terakhir ini. Meski perjalanan ini hampir terancam tidak terealisasi karena permasalahan dana, Puji Tuhan kami akhirnya didukung oleh Bank BRI sebgai sponsor utama, sponsor pendukung, dan warga indonesia yang turut membantu kami melalui sumbangan sehingga kami dapat berangkat menuju gunung terakhir ini,” kata Mathilda.

Pendakian kali ini, Everest akan menghadirkan tantangan ekstra, karena di tengah perjuangan untuk membawa diri menapakkan langkah demi langkah menuju puncak, oksigen di ketinggian ini berkurang hanya menjadi sepertiga, dibandingkan dengan yang bisa kita hirup dengan bebas sekarang ini. Frans, salah satu Seven Summiteers Indonesia yang pernah menjejakkan kakinya di gunung tersebut mengingat bahwa dengan oksigen setipis itu, pendakian menjadi amat berat. "Badan terasa amat dingin. Napas menjadi amat berat. Jalan satu langkah membutuhkan empat kali pengambilan napas," ujarnya.

Hal ini sudah ia rasakan di area sekitar Camp 3 yang berketinggian sekitar 7.200 mdpl, bahkan sebelum mencapai ketinggian 8.000 meter. Di musim dingin pada bulan Januari, suhu di puncak Everest bisa mencapai -60 derajat Celsius. Pada musim panas yang merupakan musim pendakian, suhu udara di pucuk bumi ini "hanya" berkisar -20 derajat Celsius, menambah tantangan lebih bagi pendaki, apalagi yang berasal dari daerah beriklim tropis seperti Indonesia.

Kamis, 29 Maret 2018 akan menjadi titik mulai nya perjalanan dua pendaki ini. Bandara Soekarno Hatta akan menjadi titik perpisahan untuk warga Indonesia melepas dua pendaki perempuan Indonesia untuk mengharumkan nama ibu Pertiwi di kancah Internasional lewat kibaran merah putih di atap dunia, Gunung Everest

Comments