Lifestyle Profile

Kisah Inspiratif Pria Tunanetra Lulusan Harvard Menjadi Penasehat Hukum Google Crome

  • SELASA, 20 SEPTEMBER 2016
  • Reporter: Gilang Dwi Putra
  • View: 868

22motomoto (Amerika Serikat) – Orang-orang memang tak banyak yang mengetahui nama Jack Chen. Namun, pria tunanetra ini merupakan sosok penting untuk perusahaan Google khususnya Google Chrome. 

Jack Chen merupakan salah satu penasehat hukum untuk Google Chrome. Tidak tanggung-tanggung, lulusan ilmu komputer dari Harvard dan Berkeley Amerika Serikat ini merupakan salah satu lulusan yang terbaik. 

Menurut Chen, sejak kecil pandangannya memang terbatas, ia hanya  bisa melihat dengan buram. Ia sempat menjalani operasi yang kedelapan pada usia 16 tahun, namun syaraf matanya justru mengalami kerusakan hingga membuatnya buta. “Indera optik mata saya rusak karena operasi pada salah satu mata. Mata yang tersisa, selama masa penting dalam operasi, kepala saya bergerak tanpa disengaja dan ada pendarahan. Retina mata saya rusak,” terang Chen.

Meski dengan keadaan seperti itu, Chen tidak berhenti untuk meraih kesuksesan akademis dan profesional. Ia pernah magang di AT&T dan menjadi system engineer di Xanboo Inc. Chen juga mendapat gelar J.D di Sekolah Hukum Fordham dan bekerja sebagai notaris di suatu badan hukum di New York hingga akhirnya bekerja di Google pada 2010. 

Walapun tak bisa melihat, Chen tidak bergantung pada orang lain. Terbukti, setiap harinya ia selalu berangkat dari New Jersey ke kantornya di New York dengan menaiki kereta api dan melewati dua stasiun kereta serta jalanan yang ramai di Manhattan seorang diri.

Chen mengandalkan indera penciumannya untuk menandai lokasi dan pendengarannya untuk bekerja. “Saya juga menggunakan bau untuk memberitahu di mana saya berada. Saya melewati sebuah kedai kopi dan kedai sandiwch Subway dan ada bau-bau penting yang memberitahukan jika saya sudah berbelok ke kiri dan menuju stasiun kereta bawah tanah,” ucap Chen.

Tidak hanya itu, Chen juga memiliki hobi yang terbilang ekstrim. Pria ini rupanya menyukai kegiatan alam seperti renang, bersepeda hingga mendaki. Bahkan Chen pernah mendaki Gunung Kilimanjaro, Tanzania, Afrika pada 2012 silam. “Saya ingin menguji diri saya sendiri, tapi saya tidak punya banyak waktu belajar teknik memanjat. Saya berpikir jika saya menyukainya, saya bisa mencoba alat-alatnya nanti dan mendaki puncak gunung lain,” tutup Chen.

Kisah Jack Chen ini tentunya membuat banyak orang terenyuh. Ia seolah membuktikan, keterbatasan tak menghalangi seseorang untuk meraih mimpi ataupun menikmati kehidupan.

Dan Perusahaan Google membuktikan, bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang seseorang untuk dapat berkarir secara profesional sesuai dengan akademis yang dimiliki.

Sumber : berbagai sumber 

Comments